
1.1. Latar
Belakang
Peningkatan jumlah konsumsi ikan
pada masyarakat memerlukan penambahan jumlah produksi perikanan. Produk
perikanan tersebut diperoleh dari kegiatan budidaya dan usaha penangkapan ikan.
Namun, hasil tangkapan dari perairan umum telah berkurang sehingga diharapkan
adanya usaha budidaya yang dapat berperan serta dalam penyediaan ikan-ikan yang
diminati oleh masyarakat setempat.
Pengembangan usaha budidaya sangat
tergantung pada pengadaan benih. Semakin meningkat usaha budidaya, maka
permintaan benih juga akan semakin meningkat pula, baik melalui Balai Benih
Ikan (BBI) yang ada di suatu daerah maupun dari usaha pembenihan milik rakyat.
Dengan adanya usaha pembenihan,
diharapkan dapat membantu dalam mengatasi atau memenuhi permintaan benih yang
semakin meningkat. Sehingga kekurangan benih bukan lagi merupakan kendala dalam
kegiatan usaha budidaya.
Usaha pembenihan merupakan usaha
yang sangat penting dalam sektor budidaya perikanan, karena dalam melakukan
budidaya faktor penyediaan benih adalah mutlak. Kekurangan benih ikan merupakan
kendala bagi peningkatan produksi. Secara umum dapat dikemukakan bahwa kelemahan kegiatan pembenihan terletak pada rendahnya kelangsungan
hidup yang biasanya disebabkan oleh kekurangan makanan, adanya perubahan suhu
yang besar, faktor cahaya, salinitas, dan kadar oksigen terlarut.
Benih ikan yang diperoleh dengan cara
pembenihan tradisional, tingkat keberhasilannya masih sangat terbatas atau
rendah, dimana kemampuan dan peralatan yang biasa digunakan oleh petani masih
terbatas. Untuk itu, supaya memperoleh hasil yang memuaskan atau maksimal, kita
dapat melakukan pemijahan secara buatan supaya telur yang diperoleh atau
didapat jumlahnya maksimal. Dalam penetesannya pun dapat dikontrol demi
mendapatkan benih yang lebih banyak, baik dan berkualitas.
Saya tertarik mengambil judul magang
mengenai Teknik Pembenihan Ikan Patin ini, karena di situ kita mempelajari dan
melakukan mulai dari pemilihan induk yang baik yaitu induk telah matang gonad
dan siap untuk dipijahkan kemudian cara penyuntikan dan pemberian dosis yang
tepat kemudian kalau dilakukan striping bagaimana menstriping yang benar,
kemudian setelah menjadi larva sampai benih bagaimana cara pemberian pakan yang
benar.
1.2.Tujuan dan Manfaat
Tujuan
dari praktek magang ini adalah untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam
tentang pembenihan ikan patin (Pangasius pangasius) secara langsung di Balai Benih Ikan Sentra
(BBIS) Sungai Tibun Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau. Dan juga untuk
mengetahui permasalahan yang dihadapi serta mencari solusi pemecahan
permasalahan tersebut.
Manfaat
yang diharapkan dari praktek magang ini adalah dapat melakukan praktek
pembenihan ikan patin (Pangasius pangasius) secara langsung di lapangan, menambah
wawasan, pengalaman dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang
ditekuni untuk dijadikan bekal kedepannya dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Patin (Pangasius pangasius)
Klasifikasi ikan patin (Pangasius pangasius)
menurut Saanin (1984) diacu dalam Subagja 2009 adalah sebagai berikut :
Ordo : Ostariophyri
Subordo : Siluroide
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies :
Pangasius sp
Ikan patin (Pangasius sp) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar,
berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan.
Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah
bawah (merupakan ciri khas golongan catfish).
Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai
peraba (Anonim 2006 diacu dalam Subagja 2009).
Morfologi ikan patin (Pangasius sp) mempunyai badan memanjang dan
pipih, posisi mulut sub terminal dengan 4 buah sungut. Sirip punggung berduri
dan bersirip tambahan serta terdapat sirip lengkung mulai dari kepala sampai
pangkal sirip ekor. Bentuk sirip tersebut agak bercagak dengan bagian tepi berwarna
putih dan garis hitam di tengah. Ikan ini mempunyai panjang maksimum 150 cm
(Subagja 2009).
Ikan patin sangat toleransi terhadap derajat keasaman (pH) air. Artinya,
ikan ini dapat bertahan hidup pada kisaran pH air yang lebar, dari perairan
yang agak asam (pH 5) sampai perairan yang basa (pH 9) (Subagja 2009).
Kandungan oksigen terlarut yang dibutuhkan bagi kehidupan ikan patin adalah
berkisar antara 3-6 ppm, sementara karbondioksida yang bias ditolerir berkisar
antara 9-20 ppm, dengan alkalinitas antara 80-250 (Subagja 2009). Suhu air
media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 28-30°C (Khairuman dan
Suhenda 2002 diacu dalam Subagja 2009).
2.2.
Pembenihan Ikan Patin (Pangasius pangasius)
Pembenihan
adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam pematangan gonad , pemijahan dan
pembesaran larva hasil penetasan sehingga menghasilkan benih yang siap ditebar
di kolam, keramba atau ditebar kembali keperairan umum. Secara umum pembenihan
pada ikan dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu : 1) Pembenihan
secara alami adalah kegiatan untuk memproduksi benih yang diperoleh semata-mata
dari hasil pemijahan induk ikan yang ada di alam tanpa ada campur tangan
manusia; 2) Pembenihan secara
semi alami atau semi buatan adalah kegiatan untuk memproduksi benih yang
sebagian dari kegiatan tersebut sudah ikut campur tangan manusia; 3) Pembenihan secara buatan adalah
kegiatan untuk memproduksi benih yang semua kegiatannya adalah campur tangan
manusia.
Pembenihan menyangkut dua hal yaitu
”Breeding dan Seeding”. Breeding yaitu segala perlakuan atau treatmen terhadap
induk sehingga menghasilkan larva. Sedangkan Seeding adalah penanganan mulai
dari larva sampai dengan benih yang siap untuk di pasarkan (Hayati, 2004).
2.2.1. Syarat Lokasi Pembenihan
Fasilitas yang harus dimiliki oleh suatu balai benih ikan adalah : 1) Kolam pemijahan; 2) Kolam pendederan; 3) Kolam pemeliharaan calon induk; 4) Kolam penampung calon benih; 5) Kolam pemberokan; 6) Kolam filter dan reservoir; 7) Kolam pemeliharaan ikan
donor, dan ; 8) Peralatan bahan lainnya (Khairuman dan Amri,
2002).
2.2.2. Komponen Pembenihan
Pemijahan
buatan atau kawin suntik dapat dilakukan apabila induk telah matang
gonad, langkah selanjutnya adalah penyuntikan hormon, menurut Sutisna dan
Sutarmanto (1995), teknik penyuntikan dapat dibagi tiga yaitu : 1) Intramuscular
(penyuntikan di dalam otot); 2) Intraperitorial (penyuntikan pada rongga
perut); 3) Intracranial (penyuntikan pada rongga otak melalui tulang occipital
bagian yang tipis).
Penyuntikan di dalam otot yaitu jarum suntik tersebut di arahkan ke dalam
otot punggung bagian belakang yang kemiringan jarum suntik 45 derajat,
penyuntikan pada rongga perut ini yaitu ikan tersebut dibaringkan dan disuntik
dari arah samping perut diantara rongga tulang perut, dan pada penyuntikan pada
rongga otak melalui tulang occipital bagian yang tipis ini yaitu jarum suntik
diantara tulang pangkal kepala dan tulang pangkal punggung ikan.
Faktor
yang mempengaruhi keberhasilan pemijahan dibagi menjadi dua kelompok yaitu : 1)
Faktor eksternal meliputi : suhu, curah hujan, intensitas cahaya, dan
sebagainya; 2) Faktor internal meliputi : kematangan gonad, ketersediaan
hormon, dan hormon gonadotropik.
2.2.3. Teknologi Pemeliharaan Induk
Tujuan utama Pemeliharaan Induk
adalah agar dapat menghasilkan induk yang mempunyai kualitas prima. Mutu induk
selain ditentukan dari segi genetiknya juga sangat ditentukan oleh cara
perawatan induk tersebut, paling tidak ada dua hal yang perlu diperhatikan
yaitu kolam pemeliharaan dan pakan (Hernowo, 2001).
Menurut Djariajah (2001), pematangan
gonad dilakukan selama 3-4 bulan dengan kepadatan 3-5 ekor/m2.
Makanan yang diberikan untuk induk sebaiknya memiliki kandungan protein yang
tinggi, tetapi kadar lemaknya rendah. Ditambahkan oleh Hernowo (2001), apabila
menggunakan pakan komersial, sebaiknya pakan tersebut ditingkatkan mutunya
dengan pengayaan (enriched), caranya dengan menambahkan nutrisi serta vitamin C
ke dalam pakan komersial tersebut.
Menurut Khairuman dan Suhenda
(2002), ciri-ciri induk betina yang matang gonad biasanya berumur kurang lebih
3 tahun dengan berat minimal 1,5 – 3 kg/ekor. Pada bagian perut kelihatan agak
membesar ke arah anus dan bagian lubang genitalnya berwarna kemerahan.
Sedangkan ciri-ciri induk jantan yang matang gonad berumur minimal 2 tahun
dengan berat 1,5 -2 kg/ekor. Alat kelamin membengkak dan berwarna merah tua dan
apabila diurut ke arah anus akan mengeluarkan sperma berwarna putih susu.
2.2.4. Pemijahan
Pemijahan adalah suatu proses
pengeluaran sel telur oleh induk ikan betina dan sperma oleh induk jantan yang
kemudian diikuti dengan pembuahan. Pemijahan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu
: pemijahan alami, pemijahan semi alami, dan pemijahan buatan. Ikan patin hanya
dapat dipijahkan secara buatan (Hayati, 2004).
Hernowo (2001) menyatakan bahwa,
pemijahan buatan dapat dilakukan dengan cara menstriping atau mengurut perut
sampai ke arah lubang kelamin induk jantan dan induk betina. Agar telur dan
sperma dari induk-induk yang telah disuntik tersebut dapat dikeluarkan. Proses
penstripingan ini dapat dilakukan beberapa jam setelah penyuntikan.
Pembuahan dilakukan dengan cara
mencampur telur dan sperma yang diaduk secara perlahan dengan menggunakan bulu
ayam selama lebih kurang 2 menit dan kemudian dicuci dengan menggunakan air bersih
(aquades) untuk menghilangkan lendir. Agar daya rekat telur hilang dan
menghindari penggumpalan pada telur, maka dilakukan pencucian dengan emulsi
lumpur yang terlebih dahulu telah dipanaskan pada suhu 1000 C guna
menghindari penyakit (Khairuman dan Suhenda, 2002).
2.3. Penetasan dan Pendederan
Penetasan
merupakan saat terakhir dari masa pengeraman (inkubasi) sebagai hasil dari
beberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya (Effendi, 1997).
Penetasan terjadi karena adanya : a) Kerja mekanik oleh karena embrio sering
mengubah posisinya karena kekurangan ruang dalam cangkangnya, dengan pergerakan
tersebut bagian cangkang telur yang lembek akan pecah sehingga embrio akan
keluar dari cangkangnya; b) Kerja enzimatik yaitu enzim dan unsur kimia lainnya
yang dikeluarkan oleh kelenjar endodermal didaerah pharink embrio (Lagler et
al, 1972).
Penetasan akan terjadi semakin cepat
bila embio yang ada dalam cangkang
semakin aktif
bergerak. Aktivitas embrio dan pembentukan chorionase dipengaruhi oleh : 1)
Faktor dalam yaitu hormone (yang dihasilkan oleh hipofisa dan tyroid dan
berperan dalam proses metamorfosa) dan volume kuning telur (berperan dalam
perkembangan embrio); 2) Faktor luar yaitu suhu, pH, salinitas, gas-gas
terlarut (O2, CO2, NH3) dan intensitas cahaya
(Nikolsky dalam Sukendi, 2005).
Hardjamulia dalam Syafrizal (2004)
menyatakan bahwa penetasan telur ikan pada suatu sistem terkontrol dapat
mengatasi salah satu fase kritis dalam pembenihan, mulai dari telur sampai
penetasannya.
Nuraini (2001) menyatakan bahwa,
proses penutupan blastopor kemudian masuk kepada fase perkembangan embrio. Tanda-tanda
aktifitas embrio ikan terlihat dari pergerakan dan sering kali merupakan bagian
yang penting dalam proses penetasan. Proses ini terlihat bila embrio telah
lebih panjang dari lingkaran kuning telur. Selama penetasan, larva
bergerak-gerak sampai lepas dari kapsul telur, dan membutuhkan suhu yang cocok
dan suplay oksigen yang cukup.
Susanto dan Amri (2001) menyatakan
bahwa telur disebarkan di dalam aquarium yang disiapkan sebelumnya, yang diberi
air bersih dan diaerasi. Selanjutnya, diusahakan telur ikan jangan sampai
menumpuk karena berakibat telur akan membusuk, oleh karena itu disebarkan
dengan menggunakan bulu ayam agar telur tidak pecah.
Menurut Susanto (1996), untuk
mengatur suhu tempat penetasan agar tetap konstan dapat digunakan heater dan
thermostat pada tempat penetasan atau dapat juga dilakukan dengan cara
memasukkan air segar ke tempat penetasan sehingga akan menstabilkan suhu air.
Pendederan merupakan kegiatan
pemeliharaan larva ikan patin dari umur 14 hari sampai ukuran benih berkisar
ukuran 5-10 cm yang siap untuk dibesarkan. Kegiatan pendederan meliputi
persiapan kolam, penebaran benih, pengelolaan rutin dan pemanenan (Arie, 1996).
Pemeliharaan di kolam pendederan
berlangsung selama 14 hari. Kemudian dipanen dengan cara menyurutkan air kolam
secara perlahan-lahan sampai mencapai ketinggian tertentu. Benih diambil
sedikit demi sedikit dan ditampung di bak penampungan. Benih yang berumur 14
hari ini biasanya sudah berukuran 1-2 inci (Pataros dan Sitasit, 1976).
Hardjamulia (1975) menyatakan bahwa
penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari dengan padat penebaran 100
ekor/m2. Pengontrolan dilakukan setiap hari untuk memantau keadaan
kolam, air masuk, hama dan penyakit.
2.4. Pemeliharaan Larva dan Benih
Pemeliharaan
larva dilakukan dengan pemberian makanan, penggantian air, pemberian aerasi,
dan penyiponan untuk pembuangan makanan yang tersisa atau kotoran dan bangkai
larva. Makanan diberikan setelah larva berumur 5-7 hari sejak menetas, jenis
makanan yang diberikan adalah makanan alami berupa plankton hewani atau nabati
yang diambil dari perairan (Puspowardoyo dan Djarijah, 2003).
Menurut Sulistidjo (1980) rendahnya
produksi benih karena sifat fisik dan kimia air yang digunakan pada tempat
pembenihan kurang baik, sifat fisik dan kimia air tersebut meliputi kekeruhan
atau kecerahan, konsentrasi oksigen terlarut, pH, karbondioksida bebas, suhu
dan unsur-unsur kalium mempengaruhi aktivitas hidup ikan secara langsung maupun
tidak langsung.
Perubahan kualitas air yang
tiba-tiba dapat membahayakan kehidupan larva dan benih. Untuk itu perlu
perhatian yang intensif (Chakroff, 1976). Selanjutnya menurut Cholic et al
(1986) kriteria kualitas air yang baik adalah mengandung 5 ppm oksigen
terlarut, pH berkisar 6,5-7 dan cukup mengandung zat hara, tidak mengandung
gas-gas beracun (NH3 , H2S atau CO3) dan tidak
terkontaminasi.
2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan Ikan Patin
Makanan
mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan ikan. Untuk merangsang
pertumbuhan, diperlukan jumlah dan mutu makanan yang tersedia dalam keadaan
cukup serta sesuai dengan kondisi perairan (Asmawi, 1986).
Makanan yang didapat oleh ikan
digunakan untuk kelangsungan hidup, kelebihannya baru untuk pertumbuhan. Jadi,
kalau menginginkan pertumbuhan yang baik, maka yang diperhatikan sejumlah
makanan yang melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuh ikan tersebut (Jangkaru,
1974).
Menurut
Djariah (2001), Ikan patin memerlukan sumber energi yang berasal dari makanan
untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Patin merupakan ikan pemakan segala
(omnivora), tetapi cenderung ke arah karnivora.
Susanto dan Amri (2002) menjelaskan,
di alam makanan utama ikan patin berupa udang renik (crustacea), insekta dan
moluska. Sementara makanan pelengkap ikan patin berupa rotifera, ikan kecil dan
daun-daunan yang ada di perairan. Apabila dipelihara di jala apung, ikan patin
ternyata tidak menolak diberi pakan, sesuai dengan penelitian Arifin (1993) dalam Cholik et al (2005) yang menyatakan bahwa
ikan patin sangat tanggap terhadap pakan buatan.
Hal-hal yang harus diperhatikan
untuk menjaga kesehatan dan mempercepat pertumbuhan ikan patin adalah : 1)
Benih berumur 15 hari sebaiknya diberi pakan berupa artemia agar pertumbuhannya
lebih cepat dan gerakannya menjadi gesit; 2) Benih berumur 30 hari dapat
diberikan pakan berupa tubifex yang dikombinasikan dengan pakan pellet serbuk;
3) Patin dewasa dapat diberi pakan berupa pellet tenggelam (Cahyono, 2001).
2.6. Kualitas Air
Air
sebagai media hidup haruslah diperoleh dengan mudah dan mengalir dalam sejumlah yang cukup sepanjang tahun
dengan kualitas yang baik, namun jumlah tidak boleh berlebihan yang dapat
mengakibatkan banjir (Suseno, 1977).
Kualitas air memberikan pengaruh
yang cukup besar terhadap survival dan pertumbuhan larva. Menurut Sulistidjo,
Nondji, dan Soergiarto (1980), rendahnya reproduksi benih ikan karena sifat
fisika kimia air yang digunakan pada tempat pembenihan kurang baik. Beberapa
parameter fisika dan kimia perairan yang dapat mempengaruhi kehidupan ikan
adalah suhu, konsentrasi oksigen terlarut, karbondioksida, amoniak, pH,
alkalinitas dan kekeruhan.
Dalam proses pembenihan ikan patin
air yang digunakan sebaiknya air yang tidak mengandung racun (sumber air bisa
diperoleh dari air tanah, air sungai, air danau atau waduk dan sebelum air
tersebut digunakan terlebih dahulu air diendapkan atau didiamkan lebih kurang 1
hari agar unsur-unsur kimia dan bakteri yang terkandung di dalamnya tidak
terbawa pada saat digunakan di wadah atau akuarium.
2.7. Hama dan Penyakit
Hama
dan penyakit adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu ikan
dengan cara menghisap cairan atau memakan sebagian atau seluruh tubuh ikan
hingga menimbulkan luka atau menyebabkan kematian (Irwan, 2004).
Supaya larva ikan dalam keadaan
sehat, maka perlu dilakukan upaya pencegahan terhadap hama dan penyakit, dan
tindakan pencegahan harus mendapatkan prioritas dan perhatian khusus dalam
pengobatannya. Usaha pencegahan infeksi ikan itu sendiri bisa terjadi dari
usaha pengendalian dan pembasmian. Usaha pengendalian adalah mengurangi
terjangkitnya suatu penyakit seminimal mungkin, sehingga kerugian yang
ditimbulkan dapat ditekan sekecil mungkin. Sedangkan pembasmian adalah
menghilangkan penyakit tertentu secara tuntas, sehingga sumber penyakit
dimusnahkan dan usaha pencagahan adalah dengan melaksanakan upaya pembersihan
secara berkesinambungan baik terhadap kolam atau tambak pemeliharaan, ikan yang
dipelihara maupun seluruh peralatan yang digunakan (Irwan, 2004).
Sunyoto
(1994) menyatakan bahwa penyakit didefinisikan sebagai gangguan suatu fungsi
atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh ikan. Penyakit dapat
menyebabkan kematian, kekerdilan, periode pemeliharaan lebih lama, tingginya
konfersi makanan pada padat penebaran yang lebih rendah dan hilangnya atau
menurunnya produksi. Penyakit dapat disebabkan antara lain karena stress,
organisme pathogen, perubahan lingkungan, factor racun dan kekurangan nutrisi.
Penyakit yang sering menyerang ikan
patin terdiri dari dua golongan yaitu
penyakit infeksi yang timbul karena
gangguan organisme patogen dan penyakit
non infeksi yang timbul karena organisme
lain. Penyebab penyakit infeksi adalah
parasit, bakteri dan jamur yang dapat
menular. Sedangkan penyebab penyakit non
infeksi adalah keracunan dan kekurangan
gizi.
Parasit dapat dikendalikan dengan
metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100
cc air). Pengendalian jamur menggunakan malachyt green oxalate sejumlah 2-3 g/m
air (1 liter) selama 30
menit. Sedangkan penyakit bakteri dapat
dibasmi dengan merendam ikan dalam
larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm
selama 30-60 menit, merendam
ikan dalam larutan nitrofuran 5- 10 ppm
selama 12-24 jam atau merendam ikan
dalam
larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.

3.1. Waktu dan Tempat
Praktek
magang ini akan dilakukan pada bulan Januari sampai Februari 2012, yang
rencananya akan dilaksanakan di
Balai Benih Ikan Sentra (BBIS) Sungai Tibun Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi
Riau.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan dalam praktek magang ini adalah induk ikan patin (Pangasius pangasius) yang sudah
matang gonad dan medianya yang terdapat di Balai tersebut.
Sedangkan
alat yang digunakan adalah pH meter untuk mengukur derajat keasaman air (pH),
thermometer untuk mengukur suhu, DO meter untuk menghitung oksigen terlarut,
spektrometer untuk mengukur amoniak, alat titrasi untuk mengukur hardness,
aquarium, aerator dan alat-alat tulis seperti buku tulis, pena, pensil,
penggaris, dan kuisioner serta kamera untuk dokumentasi dari kegiatan magang
ini.
3.3. Metode Praktek
Metode yang digunakan dalam praktek magang
ini adalah metode survey yaitu melakukan pengamatan langsung dan aktif
melakukan praktek langsung di lapangan
pada objek-objek pendederan induk ikan patin (Pangasius pangasius).
Data yang dikumpulkan meliputi data primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari wawancara dengan pegawai
Balai Benih Ikan Sentra (BBIS) Sungai Tibun Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi
Riau.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari
Dinas Perikanan, Kepala Desa setempat, serta instansi terkait yang berhubungan
dengan data yang diperlukan, serta ditambah dengan literatur yang mendukung
kelengkapan dan kejelasan mengenai data yang didapatkan tersebut.
3.4. Analisis Data
Data
yang diperoleh dari Balai Benih Ikan
Sentra (BBIS) Sungai Tibundikumpulkan dan ditabulasikan dalam bentuk
tabel serta dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran tentang
keadaan Balai Budidaya Air Tawar Tibun dan masalah yang dihadapi serta dicari
alternatif pemecahannya.
3.4.1. Data Primer
Data
primer yang didapatkan melalui wawancara dengan pegawai Balai Budidaya Air
Tawar Tibun. Selanjutnya data yang dipeoleh dianalisis secara deskriptif yang
bertujuan untuk mengetahui keadaan Balai Benih Ikan Sentra (BBIS) Sungai Tibun serta permasalahan dan prospek pengembanganya
dimasa yang akan datang.
Tabel 1. Parameter Kualitas Air
Pada Bak-Bak Pemeliharaan Induk Ikan Patin di BBl Tibun
No
|
Parameter
|
Hasil Pengukuran
|
1
|
pH
|
|
2
|
DO
|
|
3
|
Suhu
|
|
4
|
Amoniak
|
Tabel 2.
Parameter Kualitas Air Pada Bak-Bak Pemijahan Ikan Patin di BBl Tibun
No
|
Parameter
|
Hasil Pengukuran
|
1
|
pH
|
|
2
|
DO
|
|
3
|
Suhu
|
|
4
|
Amoniak
|
Tabel 3. Parameter Kualitas Air
Pada Bak-Bak Pemeliharaan Larva Patin di BBl Tibun
No
|
Parameter
|
Hasil Pengukuran
|
1
|
pH
|
|
2
|
DO
|
|
3
|
Suhu
|
|
4
|
Amoniak
|
Berdasarkan
Tabel 1, 2, dan 3 di atas dapat diketahui parameter kualitas air pada berbagai
wadah seperti bak pemeliharaan induk, bak pemijahan dan bak pemeliharaan larva.
Pengukuran kualitas air ini akan menentukan bahwa apakah kondisi perairan di
Balai Budidaya Air Tawar Tibun memenuhi syarat untuk dijadikan tempat
pembenihan dan usaha budidaya ikan.
Tabel 4. Pemberian Pakan
Ikan Patin Pada Tahap Pendederan di BBI Tibun
No
|
Jenis pakan
|
Dosis
|
Frekuensi
|
Waktu
|
|
Alami
|
Buatan
|
||||
Dari Tabel 4 tersebut di atas, dapat
diketahui tentang pemberian pakan pada budidaya ikan patin. Selanjutnya kita
dapat memperoleh gambaran hubungan pemberian pakan tersebut dengan produksi
ikan patin di Balai Budidaya Air Tawar Tibun.
Tabel 5. Persentase Benih Pada Bak Pemeliharaan di BBI Tibun
Bak
|
Penebaran larva/ekor
|
Jumlah benih yang dipanen/ekor
|
FR (%)
|
HR%
|
SR%
|
1
|
|||||
2
|
|||||
3
|
|||||
Dst
|
|||||
Jumlah
|
Berdasarkan
Tabel 5 di atas, maka dapat diketahui jumlah telur/butir yang dihasilkan oleh induk
ikan patin, setelah itu kita dapat menentukan derajat pembuahan (FR%) yaitu
dengan perbandingan antara jumlah telur yang dibuahi dengan jumlah telur yang dihasilkan dikalikan
dengan seratus persen, derajat penetasan (HR%) yaitu dengan perbandingan antara
jumlah telur yang menetas dengan jumlah
telur yang terbuahi dikalikan dengan seratus persen, serta derajat
kelulushidupan (SR%) yaitu dengan perbandingan antara jumlah telur yang hidup
dengan jumlah telur yang menetas dikalikan dengan seratus persen, penghitungan
nilai SR% dilakukan setiap satu minggu sekali.
3.4.2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari wawancara
ditabulasikan dalam tabel. Data yang diperoleh dianalisis dan akan ditarik
kesimpulan. Adapun tabel yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Tabel 6. Tingkat Pendidikan Tenaga Pelaksana Di BBI Tibun
No
|
Tingkat Pendidikan
|
Jumlah
|
Persentase
|
1
|
Magister
|
||
2
|
Sarjana
|
||
3
|
Sarjana Muda
|
||
4
|
SLTA
|
||
5
|
SLTP
|
Dari Tabel 6 di atas dapat diketahui
tingkat pendidikan tenaga pelaksana di Balai Budidaya Air Tawar Tibun. Ini
berguna untuk mengetahui perkembangan pendidikan pekerja-pekerja di BBI Tibun
dalam usaha pengembangan pada masa yang akan mendatang.
Tabel 7. Jumlah Pegawai dan Status
Kepegawaian Di BBI Tibun
No
|
Status Kepegawaian
|
Jumlah
|
Persentase
|
1
|
Teknisi
|
||
2
|
Pegawai
|
||
3
|
Tata Usaha
|
||
4
|
Dll
|
||
5
|
Jumlah
|
Berdasarkan Tabel 7 di atas dapat
diketahui status kepegawaian dan jumlah pegawai yang ada di BBI Tibun. Status
kepegawaian yang didata meliputi teknisi, pegawai, tata usaha dan lain-lainnya.
Dari tabel ini juga dapat diketahui jumlah keseluruhan pegawai yang ada dan
persentasenya di BBI Tibun.
Tabel 8. Tingkat Keahlian Tenaga Pelaksana Di BBI Tibun
No
|
Tingkat Pendidikan
|
Jumlah
|
Persentase
|
1
|
Tenaga Ahli
|
||
2
|
Tenaga Terampil
|
||
3
|
Tenaga Pembantu
|
Berdasarkan
Tabel 8 di atas dapat diketahui keahlian tanaga pelaksana di BBI Tibun, sehingga
mempunyai bidang keahlian masing-masing untuk pembenihan ikan yang intensif
untuk mencapai hasil budidaya yang optimal.
Tabel 9. Jumlah dan Luas Kolam di BBI
Tibun
No
|
Jenis Kolam
|
Jumlah
|
Bentuk
|
Ukuran
|
Luas
|
1
|
|||||
2
|
|||||
Dst
|
|||||
Jumlah
|
Dari Tabel 9 di atas dapat diketahui
berapa jumlah, bentuk, ukuran, dan luas kolam yang ada dan perkembangannya, hal
ini erat kaitannya dengan kegiatan budidaya ikan patin di BBI Tibun.
Tabel 10. Jumlah dan Luas Kolam di
BBI Tibun
No
|
Jenis Kolam
|
Bahan
|
Bentuk
|
Jumlah
|
Ukuran
|
Luas
|
1
|
||||||
2
|
||||||
Dst
|
||||||
Jumlah
|
Dari Tabel 10 di atas dapat diketahui
berapa jumlah, bahan, bentuk, ukuran dan
luas kolam yang ada dan perkembangannya, hal ini erat kaitannya dengan kegiatan
budidaya ikan patin di BBI Tibun.
Tabel 11. Keadaan Sarana dan Prasarana yang ada di BBI Tibun
No
|
Sarana dan Prasarana
|
Jumlah (unit)
|
Keadaan
|
1
|
|||
2
|
|||
3
|
|||
Dst
|
|||
Jumlah
|
Berdasarkan Tabel 11 di atas dapat
diketahui keadaan sarana dan prasarana yang ada di BBI Tibun. Sarana dan
prasarana yang ada merupakan fasilitas yang dapat mendukung semua kegiatan yang
ada di BBI Tibun.

Asmawi, S. 1986.
Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Cetakan Kedua. PT. Gramedia, Jakarta. 44 hal.
Arie, U. 1996. Teknik Pemijahan Lele Bangkok Alias
Si Jambal Siam. Koran Pertanian Sinar Tani, Nomor 2517-Tahun XXVI. Hal V.
Djarijah.A.A.2001. Budidaya Ikan Patin. Kanasius.
Yogyakarta 87 hal.
Hayati, U. 2004. Keadaan Pembenihan Ikan Patin pada
Hatchery Suhaimi di Desa Koto Masjid Kecamatan 13 Koto Kampar Kabupaten Kampar
Provinsi Riau. Usulan Praktek Umum. UIR. Pekanbaru. 28 hal.
Hernowo. 2001. Pembenihan Patin Skala Kecil dan Besar
Serta Solusi Permasalahan. Penebar Swadaya. Jakarta. 66 hal.
Hardjamulia, A. 1975. Cara Memelihara dan
Menternakkan Ikan Jambal Siam. Departemen Pertanian, Jakarta.
Irwan , A, H. 2004. Menanggulangi Hama dan Penyakit
Ikan. CV. Aneka Solo, Solo. 84 hal.
Jangkaru, Z. 1974. Makanan Ikan Lembaga Penelitian
Perikanan Barat. Kotellat, M. A. J. Whitten,S. N Kartikasar dan Wirjoatmojo.
1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi, Periplus Edition.
Bogor. 3 hal.
Khairuman dan Suhenda D. 2002. Budidaya Ikan Patin
Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta. 89 hal.
Lagler, K.F, 1972.
Freshwater Fishery. Biology. Wm. C. Brown Company Publisher. Dubuque
Lowa.
Miswanto, 2002.
Perbenihan Patin. Laporan Magang
Fakultas Perikanan UNRI. 59 hal (tidak diterbitkan).
Nuraini, 2001. Penuntun Praktikum Manajemen Produksi
Pembenihan Ikan. Pekanbaru. 38 hal.
Patent, D.H.1976. Fish
and How They Reproduce. Holiday Huse. New York. 128p.
Prihartono, R. E, J. Rasidik dan Usni, A. 2003.
Mengatasi Permasalahan Budidaya Lele Dumbo, Penebar. Swadaya. Jakarta. 81 hal.
Puspowardoyo, H dan Djarijah, A. S. 2003. Pembenihan
dan Pembesaran Patin Hemat Air. Kansus, Yogyakarta. 59 hal.
Pataros, M. dan P. Sitasit. 1976. Induced Spawning .
Teknical Paper No. 15 Freswater Fisheries Division. Departement of Fissheries
Bangkok, Thailand. 14 p.
Saanin 1984, Subagja Y. 2009. Fortifikasi ikan
patin (Pangasius sp) [skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
Sarwisman, 2002. Pembenihan Ikan Patin. Laporan
Magang Fakultas Perikanandan Ilmu Kelautan UR. 52 hal (tidak diterbitkan )
Susanto, 1996. Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Penebar Swadaya,
Jakarta. 45 hal.
Susanto. Dan K, Amri. 2001. Budidaya Ikan Patin, Penebar Swadaya,
Jakarta. 90 hal.
Sutisna, H dan R. Sutarmanto, 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar Kansius,
Yogyakarta. 135 hal.
Suseno, S. 1977.
Dasar-dasar Perikanan Umum. CV. Yasaguna. Jakarta. 60 hal.
Sulistidjo, A.
Nontji dan Soegiarto. 1980. Potensi dan Usaha Pengembangan Budidaya Perairan di
Indonesia. Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi. Lembaga Oseonologi
Nasional LIPI. Jakarta. 154 hal.
Sunyoto, P. 1994.
Pembesaran Kerupu. Penerbit Swadaya. Jakarta. 65 hal.
Tang U. M. 2000.
Teknik Budidaya Ikan Baung (Mystus nemurus C. V). 76 hal (tidak diterbitkan).
Direktorat Jenderal Perikanan, Bogor. 49 hal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar